Oleh: Afiatur Rizkiyah
Resume ke-11
Gelombang: 24
Tanggal: 9 Februari 2022
Tema: Kiat Menulis Cerita Fiksi
Narasumber: Sudomo, S.Pt
Moderator: Helwiyah
Sore yang melelahkan. Hujan siang tadi telah membuat keluargaku bekerja
ekstra. Ya, ada acara dadakan untuk membersihkan rumah. Guyuran hujan lebat
disertai petir menyambar dan amukan sang bayu, telah menyisakan jejak banjir di
rumahku.
Puji syukur pada Allah Subhanahu Wata’ala yang telah mengatur hujan agar
turun tidak terlalu lama. Tak mampu kubayangkan, jika hujan turun lebih lama
lagi. Tentu takkan sempat aku mengikuti pelatihan malam ini.
Terlebih lagi tema pertemuan ke-11 yang mengusung tajuk “Kiat Menulis
Cerita Fiksi” ini, sangat sayang untuk dilewatkan. Apalagi bagiku yang baru
belajar menulis.
Walau harus melawan rasa penat dan mata sepat, kubersiap membuka perangkat.
Laptop dan gawai dalam satu tempat.
Waktu telah menunjukkan pukul 19.00 tepat. Bunda Helwiyah yang anggun membuka
kelas dan menyapa hangat.
“Assalamu Alaikum wr wb. Selamat malam. Apa kabar? Semoga semua anggota
grup ini selalu dalam keadaan sehat dan bahagia, penuh semangat dalam berkarya,”
Bunda Helwiyah mulai menyapa.
Setelah mengajak berdoa, Bunda Helwiyah memperkenalkan narasumber.
“Di Pertemuan ke 11 ini kita akan belajar, menyimak dan membuat resume materi tentang Fiksi yang akan disampaikan oleh Bapak Sudomo, S.Pt yang biasa disapa dengan panggilan Mazmo atau Pak Momo pada cover buku beliau,” kata Bunda Helwiyah.
Selanjutnya Bunda Helwiyah membagikan tautan untuk membaca karya
narasumber hebat di bidang fiksi.
“Nah, sahabat penulis, silakan jalan-jalan dan membaca tulisan fiksi narasumber
kita di www.bianglalakata.wordpress.com
dan www.eigendomo.com, ya!” lanjut Bunda
Helwiyah.
Kucoba membuka tautan tersebut, kulihat tulisan Pak Momo di dalamnya.
Sebentar kubaca. Karena Bunda Helwiyah, kemudian membagikan profil Pak Momo
pada peserta. Kubaca pula profil tersebut walau sebentar, sebab Bunda Helwiyah
hanya memberikan waktu sekitar 5 menit.
Saatnya Pak Momo menyampaikan materi. Setelah menyimak penjelasan dari Pak Momo, kuperoleh beberapa poin penting berikut:
Ada beberapa alasan mengapa harus belajar menulis fiksi, yaitu:
1. Salah satu aspek yang dinilai dalam Asesmen
Kompetensi Minimum (AKM) adalah Literasi Teks Fiksi. Dengan belajar menulis
fiksi, tentu seorang guru akan lebih mudah membuat soal latihan AKM bagi
murid-muridnya.
2. Menulis fiksi merupakan cara asyik untuk menyembunyikan dan
menyembuhkan luka. Dengan menulis fiksi, seorang guru bisa menyuarakan isi
hatinya melalui tokoh-tokoh yang diciptakannya.
3. Cerita fiksi merupakan media pembelajaran alternatif yang
menyenangkan bagi murid terutama menyangkut pengembangan karakter dan materi
pengayaan.
4. Menulis fiksi bisa menjadi tambahan poin dan koin, terutama jika dikumpulkan menjadi sebuah buku.
Syarat-syarat agar bisa menulis fiksi antara lain:
1. Komitmen dan niat kuat untuk belajar menulis fiksi, baik
melalui postingan blog atau kompetisi.
2. Kemauan dan kemampuan melakukan riset. Lo, kok, cerita fiksi ada
riset juga? Iya, dong. Tujuannya agar tulisan menjadi lebih nyata. Misalnya,
menyangkut latar tempat.
3. Banyak membaca cerita fiksi karya penulis lain. Hal ini akan
memperkaya kosa kata dan juga menemukan gaya menulis.
4. Mempelajari KBBI dan PUEBI agar cerita yang ditulis sesuai
kaidah kebahasaan.
5. Memahami dasar-dasar menulis cerita fiksi.
Unsur-unsur Pembangun Cerita Fiksi terdiri dari:
1. Tema yang merupakan ide pokok cerita. Kiat menemukan tema
adalah yang paling dekat dengan kita. Bisa saja keluarga atau sekolah. Selain
itu, pilih tema yang paling disukai dan kuasai. Hal ini akan memudahkan dalam
menyelesaikan cerita.
2. Premis yang merupakan ringkasan cerita dalam satu kalimat.
Unsur-unsurnya terdiri dari karakter, tujuan tokoh, halangan/rintangan, dan
resolusi. Contoh: Seorang penyihir muda berjuang melawan penyihir jahat yang
akan menguasai dunia. Contoh tersebut adalah premis dari novel Harry Potter.
3. Alur/plot yang merupakan struktur rangkaian kejadian dalam
cerita. Terdiri dari pengenalan cerita, awal konflik, menuju konflik,
konflik/klimaks, dan ending.
4. Penokohan yang merupakan penjelasan selangkah demi selangkah
detail karakter dalam cerita. Bisa digambarkan secara langsung, fisik dan
perilaku tokoh, lingkungan, tata bahasa tokoh, dan penggambaran oleh tokoh lain.
5. Latar/setting yang merupakan penggambaran waktu, tempat, dan
suasana.
6. Sudut pandang yang merupakan cara penulis menempatkan diri.
Penggunaan sudut pandang dalam menulis cerita fiksi harus konsisten.
Bagaimana Kita Menulis Cerita Fiksi?
Pertama, niat untuk memulai dan menyelesaikan cerita fiksi. Permasalahan
yang dihadapi oleh penulis adalah mengalami kebuntuan ide menyelesaikan tulisan
fiksi.
Kedua, perbanyak membaca cerita fiksi karya orang lain untuk menambah
referensi berupa ide/gagasan/tema, teknik menulis, pemilihan kata, dan gaya
penulisan.
Ketiga, terkait ide dan genre. Catat segera ide cerita yang terlintas di
kepala agar ide tidak hilang begitu saja. Pilih genre yang disukai dan kuasai.
Keempat, outline/kerangka karangan.
- Kerangka disusun berdasarkan unsur-unsur pembangun cerita fiksi
- Menentukan tema agar pembaca mengerti lingkup cerita fiksi kita.
- Membuat premis sesuai tema
- Menentukan uraian alur/plot berdasarkan unsur-unsurnya
- Menentukan penokohan kuat berdasarkan jenis dan teknik penggambaran watak tokoh dengan baik
- Menentukan latar/setting dengan menunjukkan sisi eksotis dan detail
- Memilih sudut pandang penceritaan yang unik
Kelima, mulailah menulis.
- Membuka cerita dengan baik (dialog, kutipan, kata unik, konflik)
- Melakukan pengenalan tokoh dan latar dengan baik dengan cara memaparkan secara jelas kepada pembaca
- Menguatkan sisi konflik internal dan eksternal tokoh
- Menggunakan pertimbangan logis agar tidak cacat logika dan memperkuat imajinasi
- Memilih susunan kalimat yang pendek dan jelas
- Memperkuat tulisan dengan pemilihan kata (diksi)
- Membuat ending yang baik
Keenam, lakukan swasunting.
- Dilakukan setelah selesai menulis;
- Jangan menulis sambil mengedit;
- Memfokuskan penyuntingan pada kesalahan pengetikan, pemakaian kata baku dan istilah, aturan penulisan, ejaan, dan logika cerita;
- Usahakan menempatkan diri pada posisi sebagai penyunting agar tega menyunting tulisan sendiri;
- Jangan lupa menyiapkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI).
Seperti biasa, setelah paparan materi dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Pertanyaan berkisar tentang mencari tema yang menarik, bagaimana membuat alur yang baik, dan banyak lagi yang lain. Pada kesempatan ini, aku bertanya mengenai genre apa saja yang dimaksud dalam tulisan fiksi. Menurut Pak Momo, genre tersebut bisa berupa horor, komedi, roman, dan lainnya.
Karena waktu sudah tidak memungkinkan, Bunda Helwiyah mengakhiri pelatihan dan meminta pada Pak Momo untuk menyampaikan closing statement.
"Mohon Pak Momo berkenan memberikan closing statemen bagi para peserta perkuliahan malam ini di rombongan BM 23-24, ya!" ucap Bunda Helwiyah.
"Untuk bisa menghasilkan karya tulisan fiksi yang baik, kuncinya adalah terus belajar, karena dengan terus belajar kita akan seterusnya menjadi pembelajar," jawab Pak Momo.
Begitulah pertemuan malam ini telah memberikan ilmu yang sangat penting dalam menambah pengetahuan dan pemahamanku dalam menulis fiksi.
Rasa penatku telah terobati dengan ilmu yang tentu akan bermanfaat.
"Terima kasih Pak Momo dan Bunda Helwiyah. Juga buat Omjay yang telah berkenan menerimaku belajar bersama guru-guru dan penulis hebat."
Keren Bunda resumenya lengkap sekali dan mudah dipahami
BalasHapusTerima kasih bunda, tulisan bunda juga keren
HapusRapih
BalasHapusTerima kasih, Pak
HapusKereen bun dengan parafrase yg mudah difahami. Enak dibacanya mengalir
BalasHapusBelajar pada bu ketua yang selalu keren pula
HapusSemoga banjir segera mereda. Salam sehat Ibu.
BalasHapusAamiin, terima kasih. Alhamdulillah
HapusResume yg tertata rapi dan mudah dibaca π
BalasHapustidak mudah membuat cerita fiksi dan pak sudomo sudah memberikan ilmunya kepada kami di PGRI
BalasHapusKeren bun alur tertata rapi dan tetap semangat walau sedang lelah... ππππ
BalasHapusItulah semangat ya Bun, meski lelah menggayuti tapi resume merupakan satu tanda, menulis tiap hari dan biarkan tulisan ini menemukan takdirnya....tulisannya keren, informatif dan enak dibaca, Bunda.
BalasHapusLengkap sekali supeer
BalasHapusSukaaa... ππ
BalasHapus